Mutiara, Cantika (2026) Pelanggaran Prinsip Kesantunan Berbahasa Dalam Kasus Demonstrasi Nasional Pada Komentar Warganet di Tiktok. [Tugas Akhir/Skripsi]
|
Text
Abstrak .pdf Download (651kB) |
|
|
Text
BAB 1.pdf Restricted to Repository staff only Download (255kB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB 2.pdf Restricted to Repository staff only Download (278kB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB 3.pdf Restricted to Repository staff only Download (225kB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB 4.pdf Restricted to Repository staff only Download (424kB) | Request a copy |
|
|
Text
BAB 5.pdf Restricted to Repository staff only Download (140kB) | Request a copy |
|
|
Text
Daftar Pustaka.pdf Restricted to Repository staff only Download (153kB) | Request a copy |
|
|
Text
Lampiran .pdf Restricted to Repository staff only Download (744kB) | Request a copy |
|
|
Text
Laporan Cek Plagiasi.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) | Request a copy |
|
|
Text
Artikel .pdf Restricted to Repository staff only Download (367kB) | Request a copy |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam komentar warganet di TikTok terkait kasus demonstrasi nasional terhadap DPR RI pada Agustus 2025. Media sosial TikTok menjadi arena pertukaran opini publik yang sering kali minim etika berbahasa akibat sifat komunikasi digital yang spontan dan anonim. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data penelitian berupa komentar warganet yang mengandung pelanggaran kesantunan berbahasa, dikumpulkan melalui teknik dokumentasi dan dianalisis menggunakan teori maksim kesantunan Leech yang meliputi enam maksim: kebijaksanaan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan simpati. Teknik analisis data menggunakan metode padan pragmatis dan model analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana yang mencakup tahap identifikasi, klasifikasi, pendeskripsian, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam bentuk pelanggaran maksim kesantunan ditemukan dalam komentar warganet di TikTok. Pelanggaran maksim pujian menjadi bentuk yang paling dominan, ditandai dengan penggunaan kata-kata kasar, hinaan, ejekan, dan ujaran kebencian terhadap institusi DPR maupun tokoh publik tertentu. Pelanggaran maksim kesepakatan juga menunjukkan intensitas yang tinggi, ditandai dengan penolakan keras dan sikap konfrontatif tanpa upaya dialog. Pelanggaran maksim simpati dan kerendahan hati menunjukkan adanya dehumanisasi dan arogansi digital dalam komunikasi warganet. Sementara pelanggaran maksim kebijaksanaan dan kedermawanan menggambarkan kecenderungan memaksakan kehendak dan sikap egosentris di tengah isu sosial. Faktor anonimitas, jarak fisik dalam komunikasi digital, serta tingginya emosi publik terhadap isu politik menjadi pemicu utama rendahnya kesantunan berbahasa di ruang digital. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian pragmatik, khususnya dalam memahami dinamika kesantunan berbahasa warganet di era digital, serta menekankan pentingnya literasi digital dan etika berkomunikasi di media sosial.
| Item Type: | Tugas Akhir/Skripsi |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | pelanggaran kesantunan berbahasa, demonstrasi nasional, komentar warganet, TikTok, maksim kesantunan Leech |
| Subjects: | P Language and Literature > P Philology. Linguistics |
| Divisions: | Faculty of Language and Science > Indonesian Language Education Study Program |
| Depositing User: | Mutiara Cantika |
| Date Deposited: | 23 Apr 2026 04:35 |
| Last Modified: | 23 Apr 2026 04:35 |
| URI: | http://erepository.uwks.ac.id/id/eprint/22579 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
Downloads
Downloads per month over past year

