Apriliyanto, Decky (2026) studi kasus distokia (kesulitan melahirkan) pada sapi potong di Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo selama Januari-Desember 2025. [Tugas Akhir/Skripsi]
|
Text
( ABSTRAK ).pdf Download (3MB) |
|
|
Text
(BAB 1).pdf Restricted to Repository staff only Download (97kB) | Request a copy |
|
|
Text
(BAB 2).pdf Restricted to Repository staff only Download (485kB) | Request a copy |
|
|
Text
(BAB 3).pdf Restricted to Repository staff only Download (112kB) | Request a copy |
|
|
Text
(BAB 4).pdf Restricted to Repository staff only Download (102kB) | Request a copy |
|
|
Text
(BAB 5).pdf Restricted to Repository staff only Download (94kB) | Request a copy |
|
|
Text
(DAFTAR PUSTAKA).pdf Download (133kB) |
|
|
Text
(LAMPIRAN-2).pdf Restricted to Repository staff only Download (930kB) | Request a copy |
|
|
Text
CEK PLAGIASI 1.pdf Restricted to Repository staff only Download (182kB) | Request a copy |
|
|
Text
LAPORAN CEK PLAGIASI 2.pdf Restricted to Repository staff only Download (1MB) | Request a copy |
Abstract
Dokumen ini membahas studi kasus distokia (kesulitan melahirkan) pada sapi potong di Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo selama Januari–Desember 2025. Distokia merupakan gangguan reproduksi yang menyebabkan induk sapi tidak mampu melahirkan secara normal tanpa bantuan. Kondisi ini dapat menimbulkan kerugian ekonomi karena meningkatkan risiko kematian pedet, menurunkan produktivitas ternak, dan menghambat pertumbuhan populasi sapi. Faktor penyebab distokia dapat berasal dari induk (maternal) seperti ukuran panggul sempit, gangguan hormonal, dan lemahnya kontraksi uterus, maupun dari fetus seperti ukuran yang terlalu besar, posisi yang tidak normal, atau kematian dalam kandungan. Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data kasus distokia dari Puskeswan Panarukan serta melakukan observasi langsung di lapangan. Kecamatan Kendit memiliki populasi sapi sebanyak 8.089 ekor, dengan mayoritas berupa sapi betina dewasa yang berperan dalam reproduksi. Selama tahun 2025 tercatat 16 kasus distokia dari sekitar 4.137 sapi yang melahirkan, sehingga tingkat kejadian distokia hanya sekitar 0,3%. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kasus lebih sering terjadi pada sapi dara yang pertama kali beranak, terutama yang kurang bergerak selama masa kebuntingan dan memiliki kondisi fisik yang kurang mendukung proses kelahiran. Penanganan distokia dilakukan melalui pemeriksaan fisik, pemeriksaan vaginal, dan palpasi rektal untuk menentukan kondisi saluran reproduksi dan posisi fetus. Pada kasus yang ditemukan, tindakan utama yang dilakukan adalah penarikan paksa (traction) menggunakan tali pada kaki depan fetus karena kontraksi induk lemah meskipun posisi fetus normal. Setelah kelahiran, dilakukan perawatan pedet dan induk, termasuk pemberian iodin pada tali pusar, antibiotik, serta multivitamin Biosan TP untuk mempercepat pemulihan. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa kejadian distokia di Kecamatan Kendit tergolong rendah, dan keberhasilan penanganannya sangat dipengaruhi oleh diagnosis yang tepat, tindakan obstetri yang cepat, serta manajemen pemeliharaan dan reproduksi yang baik.
| Item Type: | Tugas Akhir/Skripsi |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Distokia, Sapi Potong, Gangguan Reproduksi, Penanganan Kelahiran, Kesehatan Reproduksi Ternak, Kecamatan Kendit. |
| Subjects: | Q Science > QL Zoology S Agriculture > SF Animal culture |
| Divisions: | Faculty of Vetenary Medicine > Vetenary Education Study Program |
| Depositing User: | 80 Decky apriliyanto uwks |
| Date Deposited: | 06 Oct 2026 03:22 |
| Last Modified: | 06 Oct 2026 03:22 |
| URI: | http://erepository.uwks.ac.id/id/eprint/22868 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
Downloads
Downloads per month over past year

