Perbedaan sensitivitas dan spesifisitas metode pewarnaan Chicago Sky Blue (CSB) dan pemeriksaan kalium hidroksida (KOH) pada dermatomikosis Superfisialis

Nadiasari, Amalia (2020) Perbedaan sensitivitas dan spesifisitas metode pewarnaan Chicago Sky Blue (CSB) dan pemeriksaan kalium hidroksida (KOH) pada dermatomikosis Superfisialis. Bachelor (S1) thesis, Wijaya Kusuma Surabaya University.

[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (3MB)
Official URL: https://www.uwks.ac.id

Abstract

ABSTRAK Nadiasari, Amalia. 2019. Perbedaan Sensitivitas dan Spesifisitas Metode Pewarnaan Chicago Sky Blue (CSB) dan Pemeriksaan Kalium Hidroksida (KOH) Pada Dermatomikosis Superfisialis. Tugas Akhir. Fakultas Kedokteran. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Pembimbing:Dr. Masfufatun, SSi., MSi. Latar belakang: Dermatomikosis superfisialis merupakan penyakit infeksi pada kulit, rambut dan kuku yang disebabkan oleh agen patogen jamur. Berdasarkan jamur penyebabkan dibedakan menjadi dermatofitosis, ptiriasis versikolor, dan kandidiasis superfisialis. Penegakan diagnosis yang cepat dan tepat penting untuk menentukan terapi awal dan cara menghindari keterlambatan pengobatan. Diagnosis dermatomikosis superfisialis dapat dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang rutin digunakan adalah menggunakan KOH (Kalium Hidroksida), karena mudah dilakukan, cepat, sederhana dan terjangkau. Namun terdapat pewarnaan lain yaitu CSB (Chicago Sky Blue) yang dapat memberikan gambar dengan kontras warna yang lebih baik sehingga elemen jamur mudah dideteksi. Tujuan: Mengetahui Perbedaan Sensitivitas dan Spesifisitas Metode Pewarnaan Chicago Sky Blue (CSB) dan Pemeriksaan Kalium Hidroksida (KOH) pada dermatomikosis Superfisialis. Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik dengan desain Cross Sectional pada 30 responden yang terdiri dari 15 pasien dermatomikosis superfisialis dan 15 pasien non dermatomikosis superfisialis. Sampel diambil dari kerokan lesi pasien, kemudian diperiksa dengan KOH dan CSB, yang selanjutnya akan diamati oleh analis medis. Hasil: dari total 15 kasus dermatomikosis superfisialis terbanyak adalah dermatofitosis yaitu sebesar (53,33%), kemudian Ptiriasis versikolor (26,67%) dan Kandidiasis superfisialis (20%). Sensitivitas dan spesififitas KOH sebesar 86,67% dan 100%. Sedangkan sensitivitas dan spesifisitas CSB adalah 93,33% dan 100%. Simpulan: Pewarnaan CSB memiliki sensitivitas yang lebih tinggi daripada KOH dan gambaran elemen jamur yang dihasilkan lebih terwarnai dengan baik, sehingga mudah dideteksi. Kata kunci: KOH, chicago sky blue, sensitivitas, spesifisitas, dermatomikosis superfisialis

Item Type: Thesis (Bachelor (S1))
Uncontrolled Keywords: KOH, chicago sky blue, sensitivitas, spesifisitas, dermatomikosis superfisialis
Subjects: R Medicine > RL Dermatology
Divisions: Faculty of Medicine > Medicine Study Program
Depositing User: Amalia Nadiasari
Date Deposited: 04 Feb 2020 05:50
Last Modified: 04 Feb 2020 05:50
URI: http://erepository.uwks.ac.id/id/eprint/5611

Actions (login required)

View Item View Item